KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 TENTANG BUDAYA POSITIF
BUDAYA POSITIF
A. Apa itu budaya positif?
Budaya
positif memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat,
produktif, nyaman, harmonis
dan berkelanjutan. Hal ini
membantu mendorong kebahagiaan, kesejahteraan, dan pertumbuhan baik individu
maupun komunitas secara keseluruhan. Budaya
positif mengacu pada pola pikir, perilaku, dan nilai-nilai yang mendorong
kebaikan. Budaya
ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan positif,
kolaborasi, kreativitas, dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Terwujudnya budaya positif tak terlepas dari disiplin
positif yang merupakan unsur utama pembentuknya. Tujuan dari disiplin
positif adalah menanamkan motivasi pada murid-murid untuk menjadi orang yang
mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka
percaya. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin
berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata
‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau
murid/pengikut.
Diane
juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan
disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat
seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan mulia, sesuatu yang
dihargai dan bermakna. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari
bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih
tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai agar tercapai tujuan
mulia yang diinginkan.
Bapak
Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan,
disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ‘self
discipline’ yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya,
tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline,
wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah
harus ada di dalam suasana yang merdeka. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran,
Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470). Disitu Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai
kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan
murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin
yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita
tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk
mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan
dari dalam diri kita sendiri.
B. Peran penulis menciptakan budaya
positif di sekolah
Setelah mengikuti
program guru penggerak, penulis baru menyadari bahwa guru Indonesia memiliki
seorang panutan yang memiliki pemikiran yang luar biasa. Beliau adalah Ki Hajar
Dewantara atau yang biasa disingkat menjadi KHD. Menurut beliau pendidikan harus seimbang
antara cipta, rasa dan karsa. Pengembangan karakter atau budi pekerti tidak dapat
tercipta begitu saja, harus melalui pembiasaan-pembiasaan, baik di lingkungan
sekolah, lingkungan keluarga, maupun lingkungan masyarakatnya.
Maka sudah menjadi tugas guru untuk senantiasa menjadi teladan bagi murid dalam
pembiasaan dan pembentukan karakter di sekolah.
Dalam pendidikan guru penggerak ini pula
penulis mengetahui nilai-nilai yang harus diejawentahkan dalam pembelajaran
sehari-hari. Nilai itu antara lain :
1. Berpihak
pada murid
2. Mandiri
3. Reflektif
4. Kolaboratif
dan
5. Inovatif
Penulis
telah mengamalkan setidaknya 4 dari 5 nilai yang diajarkan oleh KHD. Penulis
telah mengembangkan pembelajaran yang berpihak pada murid diantaranya melalui
pembelajaran dengan pendekatan Student Centered Learning (SCL) dengan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL).
Pembelajaran menyenangkan menjadi fokus utama penulis dalam melakukan
pembelajaran di kelas dengan selalu melibatkan murid saat pembelajaran. Adanya
diskusi, tanya jawab, komunikasi dua arah antara guru dan murid, presentasi
hasil karya siswa dan pemberian apresiasi hasil belajar siswa nyatanya bisa
menjadi pelecut rasa mandiri, kolaborasi dan inovasi dari murid itu sendiri.
Sedangkan
peran guru penggerak yang diajarkan KHD antara lain:
1. Menjadi
pemimpin pembelajaran
2. Menjadi
coach bagi guru lain
3. Mendorong
kolaborasi
4. Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student
Agency), dan
5. Menggerakkan Komunitas Praktisi
Dari
ke-5 peran tersebut penulis juga telah melakukan setidaknya 3 kegiatan yaitu
menjadi pemimpin pembelajaran melalui melakukan pembelajaran bermakna,
kontekstual dan menyenangkan selain menanamkan karakter positif kepada murid
melalui pembiasaan baik seperti peningkatan minat baca (literasi) dan kecakapan untuk menggunakan berbagai angka dan simbol
yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah praktis dalam
berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari (numerasi).
Menjadi coach bagi guru lain yaitu dengan memberdayakan
diri melalui refleksi atas hasil pengalaman praktik-praktik profesionalnya
sendiri dengan adanya diskusi dengan teman sejawat dan penyebaran praktik baik
yang telah dilakukan. Selain itu peran GP yang telah penulis lakukan adalah
mendorong kolaborasi dengan bekerjasama dalam setiap kegiatan yang dilakukan
sekolah. Contohnya adalah ketika penyusunan ARKAS, pembentukan panitia
perpisahan kelas VI, pembentukan panitia PHBI di sekolah, dsb.
Berkaitan dengan visi
guru penggerak, penulis juga telah banyak melakukan diskusi tantang visi guru
penggerak melalui prakarsa perubahan melalui kegiatan desiminasi di sekolah
yang dihadiri kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan. Dari adanya
desiminasi tersebut para warga sekolah merasa tergugah dan sadar apa yang
semestinya mereka lakukan demi kemajuan sekolah. Diharapkan setelah adanya
desiminasi tersebut terjadi perubahan ke arah yang lebih baik.
C.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin
positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan,
posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga
restitusi. Adakah
hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Disiplin
positif akan melahirkan budaya positif. Budaya positif akan memunculkan suasana
yang nyaman. Dalam keadaan semacam ini teori kontrol dapat dilakukan dengan
penuh kesadaran. Guru akan menempatkan dirinya bukan lagi sebagai penghukum,
pembuat merasa bersalah, namun setidaknya akan menempatkan dirinya sebagai
teman dari murid, pemantau bahkan berposisi sebagai manajerial sesuai teori 5
posisi kontrol. Ketika semua warga sekolah bisa memposisikan dirinya sebagai
warga sekolah yang mampu mengerjakan keyakinan sekolah sebagai tindak lanjut
dari keyakinan kelas yang merupakan perlakuan atas kesadaran melakukan
peraturan dari dalam diri, maka diharapkan tidak ada lagi hukuman sebagai
identitas gagal, yang ada hanyalah konsekuensi dan restitusi.
Kita tahu bahwa
hukuman adalah sesuatu yang menyakitkan dan harus terjadi, tidak nyaman
dilakukan dan murid akan tersakiti. Sedangkan konsekuensi adalah perbuatan yang
harus dilakukan akibat dari kesalahan yang murid sendiri lakukan, tentunya
murid juga kurang nyaman melakukan sebuah konsekuensi namun karena itu adalah
kesepakatan yang memang harus dilakukan, maka mau tidak mau murid akan
menjalaninya. Diharapkan setelah mengerti akan adanya konsekuensi akan terwujud
sebuah restitusi, dimana kesalahan akan disadari, murid mendapat penguatan atas kesalahan
sehingga tak lagi berbuat kesalahan yang sama dengan solusi yang ia buat
sendiri, masalah terpecahkan bukan dari faktor eksternal namun berasal dari
kesadaran diri yang merupakan faktor internal.
D.
Perubahan
apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di
kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Saya menyadari
bahwa pemberian hukuman tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada hanyalah
curahan emosi guru terhadap murid dan bukan tidak mungkin murid akan merasa
dendam dengan perlakukan guru. Saya mulai mengganti hukuman dengan cara yang
lebih baik yaitu menyadarkan siswa dengan penerapan segitiga restitusi yaitu
dengan cara :
1. Menstabilkan
identitas
2. Validasi
tindakan yang salah, dan
3. Menanyakan
keyakinan
Setelah
mempelajari modul 1 ini penulis benar-benar merasa bahwa memang banyak
kekurangan yang ada pada diri penulis. Dalam modul 1 ini diajarkan bagaimana
menciptakan prakarsa perubahan yang nantinya dituangkan dalam visi guru
penggerak dan bagaimana mengimplementasikannya di lingkungan sekolah. Yang
kebih utama adalah bagaimana memelihara budaya positif dari ancaman pemikiran
yang tidak sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.
E.
Pengalaman seperti apakah yang
pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya
Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
Pengalaman saat
diseminasi atau berbagi praktik baik segitga restitusi dan pembuatan keyakinan kelas.
Diseminasi disambut positif oleh warga sekolah karena memberikan pengalaman
baru bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan mengikuti program guru
penggerak.
F.
Bagaimanakah
perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
Perasaan sangat
senang karena mendapat sambutan hangat dari warga sekolah. Mereka antusias
mengikuti jalannya kegiatan diseminasi dan ingin ikut serta menerapkan segitiga
restitusi dan mencoba membuat keyakinan kelas.
G.
Menurut
Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa
sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
Hal yang sudah
baik adalah membuat keyakinan kelas bersama murid dan penerapan segitiga
restitusi ketika ada murid yang melakukan sebuah kesalahan. Hal yang perlu ditingkatkan
adalah keyakinan kelas diharapkan bisa dilakukan oleh semua guru di sekolah dan
bersama-sama menciptakan keyakinan sekolah.
H.
Sebelum
mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi
kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan
Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda
pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?
Penulis lebih
cenderung menjadi penghukum. Perasaan saya saat itu hanya dipenuhi emosi tanpa
ingin mengetahui apa yang menjadi sebab mereka melakukan kesalahan. Setelah mempelajari
modul ini saya berusaha mengambil peran sebagai manajer yaitu memberikan
pertanyaan dan pilihan kepada murid, bersama mencari solusi dari setiap
permasalahan dengan melibatkan murid mendalami keyakinan kelas yang telah
dibuat.
Perbedaannya adalah
murid lebih merasa dihargai, diperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya dan
tidak lagi ada emosi menghadapi permasalahan.
I.
Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi
permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan
bagaimana Anda mempraktekkannya?
Pernah, namun
hanya sebatas menstabilkan identitas dengan menanyakan alasan mengapa murid
melakukan kesalahan. Setelah itu penulis langsung memberikan saran kepada murid
tanpa melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan.
J.
Selain
konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang
menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif
baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Konsep yang disampaikan
dalam modul ini cukup jelas dan terperinci. Bagaimana penulis memahami
perbedaan hukuman, konsekuensi dan restitusi. Modul ini juga menerangkan 5
kebutuhan dasar manusia yaitu bertahan hidup, kasih sayang, kesenangan, kebebasan
dan penguasaan. Penjelasan 5 posisi kontrol guru juga dibahas tuntas mulai dari
penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau dan manajerial. Tidak lupa
penulis sangat antusias ketika mempelajari segitiga restitusi.
Komentar
Posting Komentar