Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh nasional Indonesia yang
bergerak di bidang pendidikan. Sejak penulis berada di bangku SD, guru telah
mengenalkan sedikit profil KHD diantaranya adalah ketika peringatan Hari
Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, dimana
tanggal tersebut merupakan hari lahir KHD. Tanggal 2 Mei dipilih sebagai bentuk
penghargaan negara untuk jasa-jasa yang telah didedikasikan untuk bangsa
Indonesia. Salah satu semboyan yang digaungkan KHD juga banyak penulis temukan,
yaitu lambang Tut Wuri Handayani. Walaupun dimasa itu belum begitu tau apa
maksna dari semboyan tersebut.
Sebelumnya, enulis mempercayai bahwa murid adalah kertas putih yang dapat diisi oleh berbagai macam tulisan dan warna, berbagai coretan dan gambar. Tergantung keinginan guru mau mengisi kertas polos itu menjadi apa. Murid tidak punya kebebasan karena wajib menerima doktrin dari guru tentang apa yang diajarkannya, sehingga tidak sedikit yang menganggap belajar di sekolah merupakan kegiatan yang sangat membosankan.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena setelah penulis pelajari pemikiran KHD tentang pendidikan bahwa pendidik itu ibarat petani, siswa diibaratkan tanaman yang secara kodrat berbeda satu sama lain. Jika KHD mengibaratkan seorang petani tidak boleh memperlakukan jagung seperti padi, atau sebaliknya. Maka pendidik harus bisa mengiterpretasikan bahwa guru wajib mengetahui karakteristik peserta didik agar mereka bisa tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan siswa.
Setelah penulis mempelajari pemikiran KHD tentang kodrat alam dan kodrat zaman, penulis mulai menyadari bahwa peserta didik bukan hanya kertas kosong melompong, namun Tuhan telah membekali bakat pada setiap diri. Kodrat alam adalah kekuaatan, potensi, atau keadaan diri yang secara alamiah melekat pada diri masing-masing peserta didik. Dari pengertian tersebut guru bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan siswa, justru guru wajib "menghamba" kepada murid.
Menghamba dalam arti guru harus menganalisa kebutuhan, keinginan, dan kepentingan peserta didik. Guru harus bisa membedakan karakteristik belajar peserta didik apakah mereka termasuk type visual, auditory ataukah kinestik? Sehingga peserta didik dapat memperoleh pembelajaran yang bermakna untuk kehidupan mereka.
KHD juga telah mengingatkan kita tentang adanya Kodrat zaman. Kodrat zaman adalah kekuatan, potensi atau keadaan diri yang berubah sesuai konsisi sosial, budaya masyarakat sesuai perkembangan zaman. Penulis teringat dengan pesan Sahabat Nabi, Sayyidina Ali R.A yang mengatakan "Didiklah anak-anakmu pada zamannya, bukan menurut zaman kita belajar. Sebab mereka berada pada zamannya, bukan zaman kita".
Dari kedua pemikiran KHD diatas, sudah seyogyanya penulis segera menerapkan laku yang telah dipelajari. Mulai dari memberi kebebasan peserta berekspresi namun tetap bertanggungjawab, mempraktekkan pendekatan Student Centered Learning (SCL) atau pembelajaran berpusat kepada murid. Peserta didik mulai dengan hal yang sederhana seperti memilih ketua dan anggota kelompok tanpa campur tangan guru, peserta didik memilih kegiatan belajar yang diinginkan, guru memberikan bimbingan agar peserta didik bisa menyusun laporan penelitian secara sederhana, dan atau mengerjakan proyek untuk menghasilkan produk secara sederhana.

Komentar
Posting Komentar